Rabu, 27 Juni 2012

Keutamaan Bertasbih


Allah SWT mengawali tujuh suratNya dalam al-Qur’an dengan tasbih. Betapa banyak ayat tasbih yang Dia turunkan dalam KitabNya agar dipergunakan oleh manusia yang suka bertasbih memanjatkan pujian kepadaNya.

Allah swt berfirman:

“langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu semua tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS al-Isra’: 44)

“…dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS ThaHa: 130)

Rasulullah saw bersabda:

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat timbangannya, dan sangat disenangi oleh Allah swt, yaitu: Subhaanallah wa bihamdidhi subhaanallahil ‘adzhiim” (HR Ahmad, Al Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a)

“Ucapan yang paling Allah swt sukai ada empat, yaitu:



Mahasuci Allah :سبحان الله
Segala puji bagi Allah : والحمد لله
Tiada Tuhan selain Allah: ولا إله إلا الله
Allah Mahabesar والله أكبر:
Engkau boleh memulai dari yang mana saja.” (HR Ahmad dan Muslim dari Samrah bin Jundab r.a)

“Barangsiapa bertasbih kepada Allah swt setiap selesai sholat sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali, sehingga berjumlah Sembilan puluh Sembilan, dan menggenapkannya menjadi seratus dengan: laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir, maka semua kesalahannya akan diampuni oleh Allah SWT meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah r.a)

Mengucapkan:
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر
adalah lebih aku sukai dari pada terbitnya matahari.” (HR Muslim dari Abu Hurairah r.a)

“Tasbih itu setengah timbangan, alhamdulillah, dan laa ilaaha illallah tidak ada penghalang dari Allah hingga ia sampai kepadaNy.” (HR Tirmidzi dari Ibnu ‘umar r.a)

“Tidaklah mati seekor binatang buruan, dan tidaklah ditebang tumbuh-tumbuhan kecuali hal itu mengurangi jumlah tasbih.” (HR Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dari Abu Hurairah r.a)

“Maukah aku ajarkan kepadamu seperti apa yang diajarkan Nuh kepada anaknya. Kuperintahkan kamu agar bertasbih kepada Allah dan memujiNya karena sesungguhnya ia adalah shalawat dan tasbih semua makhluk, dan dengannya semua makhluk dikaruniai rezeki.” (HR Ibn Abu Syaibah dari Jabir r.a)

“Barangsiapa mengucapkan :
سبحان الله وبحمده
Seratus kali setiap hari, maka semua kesalahannya akan dihapuskan meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Ahmad, Al Bukhari, Muslim, An-Nasa’i dan Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a)

Nabi saw bersabda kepada Ummul Mukminin Juwairiyah r.a, “Telah kukatakan empat perkataan sebanyak tiga kali setelah dirimu berdoa, bila kata-kata itu ditimbang dengan apa yang telah kau ucapkan maka dia akan seimbang, yaitu:
سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضاء نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته
(HR Muslim dan Abu Dawud dari Juwairiyah r.a) []

Kamis, 21 Juni 2012

Fiqih Puasa: Makna Puasa









Menjelang Ramadhan 1433 H ini, bersamadakwah.com berniat untuk menyajikan Fiqih Puasa. Fiqih Puasa ini diringkas dari buku Fiqih Puasa (فقه الصيام) karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi. Kali ini mengkaji Makna Puasa.




MAKNA PUASA

Puasa berarti meninggalkan dan menahan diri. Yaitu menahan dan mencegah diri dari hal-hal yang boleh, meliputi keinginan perut dan kelamin, dengan niat taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.




Jadi makna puasa secara syar'i adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal semisalnya, selama satu hari penuh; mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat taqarub kepada Allah SWT.



أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ




Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS. Al-Baqarah : 187)




Ayat ini menjelaskan hakikat puasa sekaligus waktunya. Ayat ini juga menjelaskan bolehnya hubungan suami istri pada malam hari di bulan Ramadhan.




Puasa semacam ini sebenarnya telah dikenal oleh bangsa Arab sebelum Islam. Banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa sebelum Islam mereka telah terbiasa puasa asyura untuk menghormati bulan itu.




Puasa yang sesuai syariat Islam inilah seutama-utama puasa. Berbeda dengan puasa penganut agama tertentu yang tidak menyantap makhluk bernyawa, tapi boleh makan dan minum selainnya serta berhubungan seksual. Sebagian lainnya ada yang berpuasa beberapa hari secara terus menerus, yang sangat berat bagi banyak orang. Puasa yang diperintahkan syariat Islam ini mudah, bisa ditunaikan orang awam dan siapa saja. 




Demikian Makna Puasa yang diringkas dari buku Fiqih Puasa (فقه الصيام) karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi. []




PUASA (PERKARA-PERKARA MEMBATALKAN PUASA




1. Makan dan minum dengan sengaja (ijmak ulamak); berdalilkan pemahaman dari ayat Allah; “…maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam (kegelapan malam) iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib)…”. (al-Baqarah; 187)

2. Bersetubuh dengan isteri pada pada siang hari bulan Ramadhan walaupun tanpa keluar mani (ijmak ulamak); berdasarkan pemahamana dari ayat di atas.

3. Muntah dengan sengaja walaupun sedikit (berdasarkan pandangan Imam Malik dan Syafi’ie); berdalilkan hadis Nabi s.a.w.; “Sesiapa yang terpaksa muntah, maka (tidaklah batal puasanya dan) ia tidak wajib mengqadha’ dan sesiapa yang sengaja muntah, maka (batallah puasanya dan) ia wajib mengqadhanya” (HR Imam Abu Daud, Tirmizi, an-Nasai dan lain-lain dari Abu Hurairah r.a.). Mengikut pandangan Imam Abu Hanifah; tidak batal puasa kecuali banyak (penuh mulut). Jika muntah berlaku tanpa sengaja tidak batal puasa dengan ijmak ulamak.

4. Kedatangan haid dan nifas (ijmak ulamak); wanita apabila kedatangan haid atau nifas, maka batallah puasanya dengan sendirinya. Kemudian wajib ia menggantikan puasanya pada hari-hari lain di luar Ramadhan.

5. Mengeluarkan air mani dengan perbuatan secara lansung yang disengajakan seperti mengeluar dengan tangan (sama ada tangan sendiri atau tangan isteri), bercium atau berpelukan dengan isteri dan sebagainya. Adapun jika keluar mani kerana melihat atau berfikir/khayal, tidaklah membatalkan puasa –kerana ia seumpama mimpi- kecuali orang yang menjadi kebiasaan baginya. Namun begitu perbuatan tersebut adalah makruh. Begitu juga, jika yang keluar adalah air mazi, tidaklah membatalkan puasa.

6. Memasukkan sesuatu bukan makanan melalui saluran terbuka yang menyampai ke rongga perut, yakni memasukkan melalui mulut atau hidung. Perkara ini membatalkan puasa mengikut mazhab Syafi’ie, Malik dan jumhur ulamak dengan mengkiaskannya kepada makanan dan minuman.

7. Memasukkan ubat melalui lubang dubur; membatalkan puasa mengikut jumhur ulamak kecuali Imam Malik (mengikut satu pandangannya) dan Imam Daud.

8. Menitikkan air atau ubat ke dalam lubang telinga dan lubang kencing membatalkan puasa menurut Imam Syafi’ie. Begitu juga, menyedut ubat melalui hidup.[1]

9. Pengsan sepanjang hari akan membatalkan puasa dengan disepakati sekelian ulamak. Adapun tidur sepanjang hari tidak membatalkan puasa dengan ijmak juga.

10. Gila; jika seseorang itu menjadi gila, batallah puasanya kerana ia telah hilang darinya kelayakan untuk beribadah.

11. Berbekam (mengeluarkan darah); batal puasa mengikut Imam Ahmad. Jumhur ulamak tidak membatalkannya.

12. Berniat keluar dari puasa; batal puasa mengikut Imam Ahmad. Menurut Abu Hanifah, majoriti ulamak mazhab Maliki dan yang rajih dalam mazhab Syafi’ie; tidak batal puasa.

Nota kaki;

[1] Ketetapan umum dalam mazhab Syafi’ie; membatalkan puasa dengan memasukkan sesuatu ke rongga dalam badan (iaitu rongga halqum ke perut, rongga kepala (otak), usus dan pundi kencing) melalui saluran yang terbuka di badan. Sama ada benda yang dimasukkan itu kecil atau besar, makanan atau bukan makanan. Yang dimaksudkan saluran terbuka pada badan itu ialah mulut, hidung, telinga, kemaluan/faraj (saluran kencing) dan dubur (saluran berak).

Fiqih Puasa: Hikmah Puasa





Menjelang Ramadhan 1433 H ini, bersamadakwah.com berniat untuk menyajikan Fiqih Puasa. Fiqih Puasa ini diringkas dari buku Fiqih Puasa (فقه الصيام) karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi. Kali ini mengkaji Hikmah Puasa.




HIKMAH PUASA

Setiap sesuatu yang disyariatkan Islam pasti ada hikmahnya; ada yang diketahui dan ada yang tidak. Dalam ibadah puasa terdapat sejumlah hikmah dan maslahat sebagaimana diisyaratkan oleh nash-nash syariat. Berikut ini adalah sebagian hikmah puasa tersebut :




1. Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).

Dengan puasa, seseorang telah menahan diri dari hal-hal yang “menggodanya.” Jika ia mau, bisa saja ia makan, minum, dan sebagainya. Tetapi itu tidak ia lakukan. Itu semua ia tinggalkan karena Allah, maka terlatihlah ia untuk ikhlas dan bersih hatinya.



يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى ، الصِّيَامُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

…dia tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala (HR Bukhari dan Muslim)




2. Mengangkat aspek ruh Ilahiyah

Puasa mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi dalam diri manusia. Dalam diri manusia sebenarnya ada dua unsur; unsur tanah dan unsur ruh Ilahiyah. Jika unsur tanah lebih dominan, manusia turun ke derajat binatang. Sebaliknya, jika unsur ruh yang dominan, ia meninggi ke derajat malaikat. Memenangkan unsur ruh juga berarti membuat manusia meraih bahagia. Di dunia ia akan mendapatkan bahagia sewaktu berbuka, dan di akhirat ia berbahagia karena berjumpa dengan Rabbnya.



لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; ketika berbuka dia berbahagia dengan bukanya dan ketika bertemu Tuhannya dia berbahagia dengan puasanya. (Muttafaq 'Alaih)




3. Puasa mendidik manusia untuk bersabar



صوم شهر الصبر ، وثلاثة أيام من كل شهر ، يذهبن وغر الصدر

Puasa bulan kesabaran dan tiga hari di setiap bulan dapat melenyapkan kedengkian dalam dada. (HR. Thabrani, Baghawi, dan Bazzar)




4. Mengendalikan syahwat

Puasa berpengaruh dalam mematahkan gelora syahwat atau nafsu seksual yang merupakan senjata setan paling ampuh untuk menundukkan manusia. Sejumlah aliran psikologi menganggap nafsu seksual adalah penggerak utama perilaku manusia. Peradaban barat rusak juga -diantaranya- oleh nafsu seksual ini. Puasa dapat menurunkan dorongan syahwat kepada lawan jenis.



يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu maka nikahlah. Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedangkan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya. (HR. Bukhari dan Muslim)




5. Menajamkan perasaan terhadap nikmat Allah SWT.

Inilah hikmah puasa berikutnya. Dengan berpuasa seseorang dapat merasakan lapar dan dahaga sehingga ia dapat lebih merasakan nikmatnya rezeki yang dianugerahkan Allah.



عَرَضَ عَلَىَّ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ لِيَجْعَلَ لِى بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَباً فَقُلْتُ لاَ يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْماً وَأَجُوعُ يَوْماً - أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ - فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ وَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ وَشَكَرْتُكَ

Tuhanku pernah menawariku untuk menjadikan kerikil di Makkah menjadi emas. Aku menjawab, "Tidak wahai Rabbku, akan tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar, aku merendah sembari berzikir kepadaMu, dan apabila aku kenyang, aku memujiMu dan bersyukur kepadaMu." (HR. Tirmizi dan Ahmad)




6. Hikmah ijtima'iyah (hikmah sosial)

Yakni dengan puasa, seseorang dapat merasakan laparnya orang miskin sehingga timbullah rasa empati dan kasih sayang kepada mereka untuk kemudian berusaha meringankan beban mereka. Bulan Ramadhan, bulan diwajibkannya puasa juga merupakan bulan solidaritas (syahrul muwasah), di mana Rasulullah mencontohkan memperbanyak sedekah dan meningkatkan kedermawanan.



مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Barangsiapa memberi makan berbuka untuk orang yang puasa, ia mendapatkan pahala seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu (HR. Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad)




7. Mempersiapkan mukmin mencapai derajat taqwa

Inilah gabungan dari seluruh hikmah yang ada, bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan pada pelatihan fisik, kekuatan batin dan kebersihan hati yang bermuara kepada pembentukan taqwa.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa (QS. Al Baqarah : 183)




Jika sudah demikian, maka inilah ganjaran terbesarnya; diampuni dosa.



مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Al Bukhari dan Muslim) 




Demikian Hikmah Puasa yang diringkas dari buku Fiqih Puasa (فقه الصيام) karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi. []